Hari ini Kamis, 6 Nopember 2008 aku ikut seminar tentang Peningkatan Profesionalisme Pustakawan Dalam Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi yang di selenggarakan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Bogor bertempat di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) Bogor.
Informasinya sih mendadak, pagi nyampe kantor aku di kasih tau sama bos kalo dia dah daftar seminar tapi karena beliau ada rapat yang ga bisa ditinggalin, so aku yang diberangkatkan bersama dua orang staff bagian arsip. Jadinya yah jam 8.20 aku berangkat ke gedung PUSTAKA yang jaraknya sekitar 4 Km dari tempat kerjaku.
Sampe di tempat tujuan aku langsung daftar ulang di bagian sekretariat dan ternyata acara udah dimulai sekitar 20 menit, tapi masih acara buka-bukaan sih .. belum ke pokok acara. Naik lift ke lantai 7, aku sama 2 orang temanku dah ga sabar pengen liat kaya apa sih kondisinya. Sampe di depan ruang seminar, aku mulai tengok kanan-kiri cari kursi kosong, maklumlah dah agak penuh. Akhirnya dapet juga tempat duduk meskipun ga terlalu ideal sih (maksudnya jauh dari tempat kue sama teh) tapi ga papa lah.
Sejam, dua jam cape juga ikut seminar (kataku dalam hati). Pembicaranya sih lumayan, menurut kertas modul yang dibagiin sih tertulis Pror. Dr. Ir Kudang Boro Seminar, M.Sc dari IPB itu tuh, ada lagi Hanna Latuputty dari British Int’l School yang menjabat sebagai ketua APISI dan ada lagi yang lainnya.
Pembicara I ngomongin masalah arah pengembangan perpustakaan, model sistem perpustakaan yang berbasis TI yang terdiri dari fungsi back-end, front-end dan fungsi organisasi. Ada juga dibahas tentang pengembangan profesionalisme pustakawan yang meliputi sertifikasi, pendidikan & pelatihan, penterlibatan pustakawan dalam pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat, pengembangan kolaborasi dengan berbagai pihak, menjadi direct user dari teknologi informasi untuk perpustakaan.
Penyampaian yang cukup baik dengan disertai sumber-sumber yang mendukung. Maklumlah orang intelek yang namanya bertambah setiap selesai belajar. Tapi … buat aku ketinggian!
Pembicara II ngomongin tentang situasi umum kepustakawanan Indonesia sekarang ini yang disertai dengan foto-foto lucu, deretan angka dalam tabel yang merupakan representasi jumlah perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum lainnya. Dibahas juga mengenai profesionalisme pustakawan dan beberapa contoh aplikasi standar profesi pustakawan sekolah, kompetensi pustakawan sekolah.
Memang yang diangkat lebih cenderung ke perpustakaan dan pustakawan sekolah karena beliau memang praktisi pendidikan khususnya sekolah. Gaya bahasa yang simple disertai bumbu english yang cukup fasih cuma kurang tenang aja bu.
Makan (ini yang ditunggu … ;P )
Pembicara III yaitu Agus Rusmana Drs. M.A yang merupakan Dosen Jurusan Ilmu Informasi Perpustakaan Fikon UnPad sangat menghibur dalam artian bisa menguasai audiens, ada unsur komedi jadi ga bosen gitu!. Beliau ngomongin strategi menuju pustakawan profesional dengan cara pengembangan diri melalui pendidikan formal, pendidikan inisiatif dan pengembangan jaringan dengan kompetensi utama updated & modern dan ketrampilan Komunikasi. Seru pak!
Pembicara terakhir ga tau siapa namanya, tapi dia lebih cenderung ngomongin masalh teknologi informasi daripada perpustakaan. Memang sih itu seharusnya menjadi topik menarik buat aku sebagai praktisi IT (ce’ilehh) tapi ga tau knapa aku bosen banget dengerinnya. Biasalah yang ngomong adalah praktisi IT dan yang biasanya ga bisa ngomong tapi bisa mikir, tapi bener loh suwer aku puyeng. Dia ngomongin masalah Online journal & database, pengembangan sendiri digital collections, ada juga tentang common earch interface dengan disertai contoh screenshot dari internet, ada email document, RSS Feed, reference linking, setup dari ProQuest yang dijadiin contoh aplikasi perpustakaan.
Memang seharusnya aku nulis tentang isi seminar itu tapi apa daya, aku ga begitu paham soal dunia perpustakaan. Cuma kebetulan aku lagi ngembangin program arsip buat di tempat kerja, jadi ada hubungannya juga sih.
Aku seneng dapet pengalaman lagi. Perpustakaan dan pustakawan yang selama ini belum banyak di senggol ternyata memiliki peran penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan itu bisa dimulai dengan cara mencintai perpustakaan, menjadikan perpustakaan sebagai kebutuhan dan gaya hidup dan tentu saja operator perpustakaan atau pustakawan juga harus lebih pinter dan canggih lagi dalam melayani.
Akhirnya cukup sampai disini cuap-cuap aku, semoga ga jadi mimpi buruk buat yang bacanya. Maaf ye kalo ada yang ga suka, semoga perpustakaan Indonesia bisa lebih maju lagi (jangan terlalu maju, nanti digusur). Biar bangsa kita ini jadi pinter-pinter dan siap minterin bangsa lain he he okey.
Piss yo!
Mereka Bilang